Sunday, June 8, 2014

Pulau Derawan, cerita perjalanan menuju ke Derawan

Ini nih cerita Pulau Derawan dari http://wijayaryputu.wordpress.com/2014/02/14/ini-pulau-derawan-lhoo/

Iseng-iseng gw buka foto-foto lama perjalanan yang belum pernah gw publish jadi tulisan, hanya terpendam dalam piringan hardisk dan hanya menjadi kenangan sendiri. Ingin juga gw berbagi pengalaman perjalanan gw ke suatu pulau di Kalimantan Timur, ahh…sudah pasti sudah tau kok kalian…kalo masih ada yang belum tau, yah mending jadi warga negara Malaysia aja gih sana!!! Trip gw ini udah sekitar 3 tahunan yang lalu tepatnya tahun 2010 bulan Agustus, waktu liburan lebaran dan kebetulan kerjaan gw waktu itu lagi libur (maklum kerja di Berau) so, Pulau Derawan adalah destinasi yang ga boleh dilewatkan.

Bagi warga “Malaysia atau Singapura” yang belum tahu posisi Pulau Derawan, nih gw kasi petanya. Tapi uda ngerti kan Peta Indonesia ada berapa pulau besar ayooo…jangan cuman Petronas ama Merlion aja yang lo inget!!! Nah, bener banget Pulau Derawan itu ada di Provinsi Kalimantan TImur, Kabupaten Berau dan masuk ke dalam Kecamatan Derawan. Sekarang udah tau kan Pulau Derawan dimana, so, jangan cuman sekedar tau tapi lo kudu datengin nih Pulau Derawan dijamin lo bakal nyesel seumur hidup kalo cuman wacana doang mau datengin ni Pulau :D.

Oke, karena kebanyakan wisatawan itu datang dari Jakarta gw buatin rute ke Pulau Derawan yah. Rute pertama yaitu dari Jakarta – Balikpapan – Tarakan naik pesawat (kalo yang tajir) dan lanjut naik kapal cepat dari Tarakan ke Pulau Derawan dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam. Nah, rute lain adalah Jakarta – Balikpapan – Berau, dan dari Berau lo bisa naik “Taxi” (Avanza) dari Kilo Lima (Berau) ke Tanjung Batu, waktu tempuh dari Kilo Lima ke Tanjung Batu kurang lebih 2 jam, dan perjalanannya asyiik banget. Dari Tanjung Batu lanjut naik speed boat ke Pulau Derawan, kurang lebih 45 menit dan sampe deh ke Pulau Derawan. Baiklah demikian cerita singkat buat warga “Malaysia dan Singapura” tentang Pulau Derawan dan how to get there!!! Sekarang giliran gw mau cerita perjalanan gw yah…

Nulis yang satu ini memang harus dalam gelap deh, mengingat waktu yang telah berlalu sekian lama (gaya banget), mengingat detik, menit dan jam demi jam kala itu yang menjadi pengalaman dalam hidup ini. Jadi, dulu waktu lulus kuliah bulan Mei 2010 gw udah keterima kerja di suatu perusahaan tambang batubara di Berau (Kalimantan Timur). Dan tambang nya dekat kota Tanjung Redeb sih, 45 menit kalau dari site mau ke Kota. Jadi kalo kerja di tambang itu pake system yang namanya Roaster *missal roaster gw waktu itu 8 minggu 2 minggu, dengan artian gw kerja 8 minggu dan dapet off 2 minggu pulang ke Bali. Jadi selama 8 minggu itu kita harus kerja terus dari Sening – Minggu ga ada libur. Jadi, ketika tau di bulan Agustus ada cuti bersama libur Lebaran, gw mutusin backpackeran ke Pulau Derawan dengan budget Rp.500,000,-. Pokoknya enggak mau tau gw harus sampe disana dengan jatah libur 5 hari.

Detik-detik liburan pun tiba, segala informasi untuk ke Pulau Derawan dari Berau sudah gw kumpulin termasuk dapet informasi jika ada semeton (orang) Bali yang tinggal di Derawan, tambah deh gw ngerasa aman untuk ke sana. Semalam sebelum hari H, gw izin bermalam di luar mess untuk sembahyang di Pura Jagatnatha di Berau dan bermalam di sana, karena akses dari kota ke Kilo Lima tak terlalu jauh dibandingkan dari mess ke Kilo Lima.

Start dari Kilo Lima gw nungguin taxi, sebutan untuk angkutan mobil sekelas Avanza atau Inova disana. Naik taxi disini ga jauh beda sama travel di Flores, isilah sepenuh penuhnya. Dan untuk tarif carter taxi adalah 300K – 500K tergantung kehebatan lo nego, tapi kalo masuk dalam kriteria penumpang berdesakan cukup bayar 50K untuk tujuan Berau – Tanjung Batu. Tanjung Batu adalah pelabuhan kecil untuk penyebrangan kapal berjenis speed boat ke beberapa pulau di gugusan Kepulauan Derawan, ada Pulau Panjang, Pulau Derawan, Pulau Maratua, Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban dll. Untuk ke speed boat ke Pulau Derawan dari Tanjung Batu adalah 50K, yang di dalam nya diisi oleh 5 orang penumpang.

Jalan raya menuju Tanjung Batu
Jalan raya menuju Tanjung Batu

Taxi dari Kilo Lima menuju pelabuhan penyebrangan di Tanjung Batu kalo bisa dibilang lumayan menarik, sisi kiri dan kanan yang kita lihat hutan, hutan, hutan dan gundul, karena sekedar info di Berau ini bisa dibilang kabupaten yang kaya bayangin aja ada Batubara, ada pabrik kertas, ada kayu gahru, ada ulin higga minyak bumi, apa coba yang kurang? Kurang pinter aja menurut gw orang lokal disini hingga orang luar bisa eksploitasi daerah mereka dan warga asli hanya jadi penonton sukses nya para investor mengeruk kekayaan alam mereka. Selain itu jalan raya nya pun bagus jika dibandingkan dengan jalan raya di Jakarta ataupun Pantura. Langit biru kala itu memang membuat mata dimanjakan oleh indahnya alam Indonesia. Hingga wangi air laut tercium masuk ke mobil taxi dan marka Tanjung Batupun sedikit muncul di balik rimbunnya pepohonan.

Pelabuhan Tanjung Batu - Berau - Kalimantan Timur
Pelabuhan Tanjung Batu – Berau – Kalimantan Timur

Ibu-ibu yang membawa anaknya yang menjadi teman seperjalanan gw dari Kilo Lima yang kebetulan juga berasal dari Pulau Derawan mengajak gw untuk bergabung dalam satu speed boad ke Pulau Derawan karena sebelumnya di mobil gw banyak bercanda sama anaknya yang masih balita itu, lucu deh, dari ngajarin nyanyi, pancasila, balon ku ada lima, apa lagi yah gw lupa..hahaha…Jadilah gw, si ibu sama dua anaknya dan satu mas mas yang akan ke meluncur ke Pulau Derawan dan kalian perlu tau, udara disini panas, nyesss dan mata seger liat langit biruuu…

Nah, dari Padang Batu menuju Pulau Derawan itu nyaman banget, suara speed boat yang memang sedikit memekakkan telinga namun berbalas setimpal dengan pemandangan sempurna di depan kita, sedikit menengok ke kiri kita bisa liat Pulau Panjang, dimana disana biasanya orang-orang ngambil kayu (Jahat memang yah) dan next forward sedikit demi sedikit muncul Pulau Derawan, yeahh… dan kalian tau lumba-lumba tak kalah senangnya menyambut kami yang akan tiba di Pulau Derawan, ga kalah deh sama Dolphines di tempat gw Lovina (promosi :D ).

Honestly Get Lost in Derawan Island
Sampai di Derawan gw takjub bahwa di pulau ini ada sinyal dan perkampungannya juga lumayan sedikit maju, dan jangan heran kalo disini ada motor juga. Gw bingung sampe disini mau kemana, hanya berbekal nama semeton (orang) Bali yang bernama Pak Made. Si Ibu itu sebenernya menawarkan untuk tinggal dirumahnya, namun karena gw ngerasa ga enak, dan dari awal sudah siapkan alat untuk berbivak saja.

Masuk ke dalam kampung gw nanya dari satu warga ke warga yang lain dan ternyata yang namanya Pak Made ini terkenal banget disini, ohh…si Pak Made master diving itu kata seorang warga, gw manggut-manggut sok tau. Bapak itu menujukkan rumah (mess) Pak Made yang berada di dekat dermaga (jetty) BMI, sepanjang jalan menuju mess Pak Made gw liat sebagian wanita disini pake masker dari tumbukan beras, kata mereka sih biar ga item dan biar mukanya adem gitu, yah wajar aja karena disini lumayan panas.
Tiba di Pulau Derawan (panaaass)
Tiba di Pulau Derawan (panaaass)
Akhirnya gw sampe, salam pertama gw adalah ‘Om Swastiastu’ dan dari dalam rumah terdengar samar-samar suara ‘Om Swastiastu’, dan seorang pria berambut putih, dari badannya yang masih atletis gw yakin kalau waktu mudanya bapak ini macho banget. Cari siapa? Saya cari Pak Made, apakah beliau ada disini?, Ya, saya Pak Made. Dari sana perbincangan mulai cair, Pak Made menyilahkan gw duduk dan memanggil istrinya ke teras depan. Perbincangan kami pun beragam, dari kenapa gw bisa sampe sini, Balinya dari mana, sampe Pak Made yang rumahnya di Jalan Danau Tempe di kawasan Sanur, yang merupakan kawasan prostitusi di Bali.

Obrolan sedikit berhenti ketika Pak Made menanyakan ke gw mau tidur dimana? Sudah booking hotel? Haha…gw jawab santai aja, Pak, tiang (saya) mau tidur di pantai aja, tiang sudah bawa beberapa peralatan untuk camping kok pak. Wah, mungkin karena beliau merasa iba, dia malah maksa gw buat tidur di rumahnya, selama apapun gw di Pulau Derawan. Sampai akhirnya gw luluh dan memutuskan untuk men-iyakan ajakan Pak Made. *Solo traveling always find family.
Rumah Pak Made Dharma - Jette BMI
Rumah Pak Made Dharma – Jetty BMI

Snorkeling, Diving, Trekking …..
Neh, enaknya karena tinggal di pulau kecil begini, baru keluar dermaga aja uda liat coral, ikan, ikan barakuda sampe penyu hijau. Sebenernya ga perlu nyebur kita uda bisa nikmatin indahnya isi bawah laut di Derawan.  Jika beruntung pas malam hari kita bisa liat penyu yang lagi menetaskan telur nya di darat. Jadi, kerjaan gw di Pulau Derawan adalah snorkeling, diving dan trekking, engga ada yang lain, mau ke Maratua? Kakaban? Inget di awal, budget gw 500K , gimana gw bisa ke sono L.

Tapi dengan di hanya di Pulau Derawan aja gw uda ngerasain hal yang paling indah selama hidup gw, tinggal dengan Pak Made memberikan banyak pengalaman. Dan karena saat itu kunjungan wisatawan sedang mencapai peak nya karena libur lebaran, dengan inisiatif gw jadi asisten Pak Made, dari nyiapin tabung, wet-suit, snorkel dan segala kelengkapan diving. Dan sebagai hadiah adalah gw diajarin scuba-diving, yeaayyy… Sebenernya ga aneh sih antara snorkeling dan diving karena hampir sama aja yang gw rasain, cuman kalo diving lebih bisa liat pemandangan di bawah laut lebih lama dan selain itu lo bisa mengkontrol diri lo lebih peka ketimbang snorkeling.

Sunrise di Pulau Derawan (Cakeeep )
Sunrise di Pulau Derawan (Cakeeep )
Diving hari pertama gw hanya sampai kedalaman 5 meter maksimal hingga menjelang kepulangan gw balik ke Berau, Pak Made nantang gw untuk diving ke kedalaman 25 meter dan ikut liat wreck project nya di bawah sana. Perlahan masuk ke kedalaman 15 meter masih merasakan normal, namun hingga di kedalaman 20 meter arus mulai kenceng banget, gw mulai deg-degan disana, terlebih rasa mual di perut gw pengen muntah. Untungnya sama master dive itu, dia bisa control kita untuk tetep nyelam dan tenang. Ketika sampai di wreck project nya, gw lihat rumah ikan yang guedeee, banyak banget ikan disana dan beliau sengaja membuat rumah ikan tersebut sebagai spot divingnya dan memang ini cakep banget.
Tabung yang selama liburan gw angkat-angkat :D
Tabung yang selama liburan gw angkat-angkat :D
Selain itu hal yang bisa lo lakuin di Pulau Derawan adalah mengelilingi pulau nya, cukup waktu sekitar 30 menit untuk menglilingi pesisir Pulau Derawan, kalo punya punya sandal gunung mending di pake aja, karena kadang ada banyak bulu babi. Oya disini juga ada peninggalan dari keluarga Cendana, ada hotel peninggalan jaman Pak Harto yang sampe waktu itu sedikit kurang terawat setelah PON KALTIM 2010. So, you can do lots of thing in Derawan Island.
Perpisahan dan Penyesalan
Ga kerasa 5 hari 4 malam gw di Derawan dan tinggal di keluarga yang super duper menyenangkan, dari tiap malam gw makan masakan laut, tripang, tongkol sambel matah khas bali dan sambal goreng terasi. Memang waktu adalah sahabat dan terkadang menjadi ‘musuh’ bagi manusia. Waktu seakan cepat berlalu, serasa mereka iri dengan kebahagiaan gw di Derawan. Gw bingung mau kasih apa ke Pak Made dan juga Meme di sana. Ucapan terimakasih dan pelukan hangat sudah cukup untuk melepas kepergian gw dari Derawan.
Love and miss them really much
Love and miss them really much
DSC07402(FILEminimizer)
Disisi lain, sedikit ada penyesalan dalam diri gw yang ga sempat mengelilingi gugusan Kepulauan Derawan ini, karena kendala budget yang gw kali ini enggak kesana. Sedih memang melewatkan indahnya Pulau Sangalaki, sting ray di Maratua dan ubur-ubur di Pulau Kakaban. Hutang gw akan kembali lagi ke Pulau Derawan entah kapan waktu itu akan membawa gw ke Derawan kembali
Hal yang sedikit bikin senyum adalah gw tidak harus menyewa kapal untuk kembali ke Berau, ada kapal karyawan dari PT. Berau Coal juga yang sedang liburan keluarga di Pulau Derawan. Ya gratis dong, memang ye yang gratis itu enak :D.
So, lots of experience I’ve learned in Derawan, found warm family, diving, all day long seeing coas lines, fish, turtles and many more. You guys must visit Derawan Island.
DSC07737(FILEminimizer)
Welcome to Derawan Island
DSC07723(FILEminimizer)
Perahu nelayan
DSC07696(FILEminimizer)
Cuman ini yang bisa gw lakuin
DSC07621(FILEminimizer)
Leyeh leyeh di Gosong Pantai (Bar island)
DSC07529(FILEminimizer)
LOVE GRASS
DSC07507(FILEminimizer)
Which place do you want to visit ?
DSC07422(FILEminimizer)
Penyu hijau yang sangat mudah ditemui di Pulau Derawan
DSC07383(FILEminimizer)
Coral ancuurrrr
DSC07378(FILEminimizer)
DSC07353(FILEminimizer)
Pelabuhan Tanjung Batu

DSC07347(FILEminimizer)
Pemandangan Kilo Lima – Tanjung Batu

Thursday, May 22, 2014

Cerita Perjalanan Menuju Dataran Tinggi Dieng

 Siapa sih yang langsung galau kalau liat tanggal merah? Siapa sih yang suka waktu libur? Siapa sih yang lebih suka pergi jalan-jalan waktu liburan daripada cuma nonton TV di kosan? Jawabanannya adalah SAYA! Hehehe, jadi ceritanya waktu lagi gemes ngeliatin kalender dan tau klo ada hari libur langsung deh panik, bingung  mau kelayapan kemana. Setelah sowan ke Mbah Google tanya-tanya destinasi yang pas akhirnya menjuruslah tujuan saya ke kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Yup, gak salah lagi dan memang sudah saya tulis di judul postingan ini, Dataran Tinggi Dieng.
Rombongan saya kali ini semuanya perempuan, alasan utamanya bukan karena perjalanan kali ini tidak dalam rangga treking gunung, tapi lebih disebabkan pertimbangan sewa kamar penginapan. Rencananya kami berangkat dari Jakarta  tanggal 5 Juni 2013 sore hari. Paginya saya baru memesan tiket bis via telepon. Beberapa brand bis jurusan Wonosobo yang bisa dipilih ada Malino Putra, Sinar Jaya dan Pahala Kencana. Pertama-tama saya menghubungi Malino Putra tapi sayangnya tiket sudah sold out, yah saya tidak kaget karena memang besoknya tanggal merah. Selanjutnya saya telepon beberapa agen/pool Sinar Jaya di Jakarta yang akhirnya dapet tiket juga di agen yang di Pemuda - Rawamangun. Kata mas-masnya kami harus sudah datang di kantor agen tersebut paling lambat jam 17.00.
Jam 15.30 kami berangkat dari kantor naik transjakarta. Untunglah jalan belum terlalu macet banget, cuma transit bus-nya aja yang bikin lama. Turun di halte Velodrum terus jalan balik sekitar 5 menit ato bisa juga turun di halte sebelum Rabbani - Rawamangun terus jalan dikit, sampe deh di kantor agen bus Sinar Jaya. Selesai mengurus pembayaran tiket, tinggal menunggu bis-nya datang. Lumayan lama juga nunggunya, dari jam 16.30 kami sampai di kantor agen, baru benar-benar berangkat jam 17.45. Yaaa, sebenernya gak apa-apa sih nunggu daripada telat trus ketinggalan bisnya.
Hari-1: Kompleks Candi Arjuna - Kawah Sikidang & Telaga Warna

Kamis, 6 Juni 2013 bis Sinar Jaya yang kami tumpangi sampai di Wonosobo sekitar pukul 6.30 WIB. Bangku bis sudah banyak yang kosong karena memang banyak penumpang yang sudah turun di daerah Purwokerto atau Banjarnegara. Sebelumnya saya sudah bilang ke mas kernet (eh, bener gak sih sebutannya) kalau saya mau ke dieng dan ketika saatnya turun tiba si masnya langsung ngasih tau deh.

Kami turun di semacam taman dengan tugu peringatan. Di situ sudah banyak tukang ojek yang menunggu dan menawarkan untuk mengantar langsung ke Dieng. Ah, tapi jelaslah klo ngojek nanti ongkosnya jadi lebih mahal. Ngomong-ngomong kalau diantara pembaca yang budiman ada yang ingin ke Dieng, bilang ke kernetnya turun di Plaza atau bisa juga di Pasar Induk Wonosobo, maksudnya sama aja karena letak Plaza dan Pasar Induk ini berhadap-hadapan.
Pagi itu kami mandi di toilet umum yang ada di taman yang ada tugu peringatannya ini, sebut saja taman aqua ya, soalnya di situ ada water fountain yang ada tulisannya kalau itu dibikin sama aqua. Cuma ironisnya gak ada air yang mancur. Di toilet umum taman aqua itu saya sempet tanya-tanya sama mbak yang jaga toilet tentang cara menuju ke Dieng yang dijawab dengan baik hati sama mbaknya. 
Taman Aqua


Toiletnya nyempil di bagian belakang taman Aqua
Selesai mandi kami lanjut jalan ke arah alun-alun. Sesuai informasi dari mbak penjaga toilet, untuk menuju Dieng bisa naik bis jurusan Batur tapi harus jalan dulu sampe ke jalan yang jadi jalur bis tersebut. Ada dua jalan menuju jalur bis jurusan Batur, lewat alun-alun atau yang satunya saya lupa. Kami sih memutuskan lewat alun-alun saja biar bisa sekalian beli sarapan, soalnya masih menurut informasi mbak penjaga toilet, di alun-alun Wonosobo banyak yang jualan makanan. Dari taman aqua kami jalan kaki menuju alun-alun Wonosobo memakan waktu sekitar 8-10 menit. Di sepanjang jalan ini ada Pasar Induk Wonosobo dan Plaza Raya. Bagi yang lupa bawa uang tunai, di deket alun-alun yang sekaligus ujung dari jalan yang dilewati tadi ada bank BRI, jadi bisa tarik tunai di ATM-nya.
Pasar Induk Wonosobo, arah ke kanan menuju Alun-alun Wonosobo


Alun-alun Wonosobo cap dua gunung
Sampai di alun-alun Wonosobo, perhatina saya langsung terpukau dengan kemegahan gunung kembar di Jawa Tengah, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Keduanya menjulang gagah lengkap dengan kilauan sinar matahari pagi. Pemandangan ini menjadi keberuntungan setiap orang yang sedang menikmati pagi di alun-alun Wonosobo. Di tempat ini saya tidak menemukan makanan khas daerah yang ada malah bubur ayam Bandung. Mayoritas makanan di alun-alun Wonosobo paling soto, bakso, lontong opor atau nasi rames. Yaa sudah akhirnya sarapan lontong opor, deh. Mungkin karena memang sudah lapar banget, jadi apapun yang masuk perut rasanya jadi enak apalagi ditambah segelas teh panas. Ah, nikmatnya.
Lontong Opor


Anak muda jaman sekarang (-_-")
Setelah sarapan di lesehan pinggir alun-alun Wonosobo kemudian bayar di mbak-mbak yang jualan, kembali kami lanjutkan perjalanan. Agar bisa naik bis jurusan Batur, dari alun-alun harus jalan kaki sekitar 5 menit ke arah barat. Jalannya lumayan sepi, melewati beberapa kantor pemerintah, termasuk salah satunya balai nikah kecamatan Wonosobo. Sampai di ujung jalan yang berupa pertigaan, kami tinggal menunggu bis jurusan Batur di situ. Bagi yang sudah pernah naik gunung Merbabu/Merapi via ngeteng, wujud bis jurusan Batur ini mirip sama bis jurusan Cepogo.
Penampakan dalam bis jurusan Batur
Pada keadaan normal seharusnya bis ini langsung menuju desa yang bernama Batur, makanya namanya jurusan Batur. Tapi karena di daerah Kejajar tepatnya di jalan Kejajar-Dieng sedang ada perbaikan jalan makanya terpaksa harus dua kali naik bis. Bis-nya dengan jurusannya yang sama, hanya saja yang dari Wonosobo hanya berhenti di Kejajar, lalu penumpang bisa naik ojek atau ganti bis setelah jalan kaki sebentar melewati area perbaikan jalan, gak sampe 5 menit. Kalau mau ojek ditawar aja, sempet ditawarin 10 ribu, tapi kami memilih untuk naik bis dengan membayar 5 ribu. Walaupun akhirnya agak nyesel juga, soalnya naik bis Kejajar-Dieng ini ngeri banget, selain karena medannya yang menanjak terus eh penumpangnya bejubel sesak banget.
Dieng Plateau Homestay ini bersebelahan persis dengan Penginapan Bu Jono 


Dieng Plateau Homestay dari depan, baru sempet ambil gambar waktu malem
Sampai di Dieng kami turun di pertigaan Bu Jono. Begitu turun bis saya langsung melihat papan reklame homestay yang akan kami tuju. Ya, sebelumnya memang saya sudah menghubungi Dieng Plateau Homestay untuk bertanya-tanya kondisi di Dieng sekaligus memesan kamar. Soalnya saya takut kehabisan kamar penginapan berhubung bertepatan dengan libur weekend. Tapi kekhawatiran saya ini gak ada artinya, soalnya ternyata di homestay yang menyediakan 8 kamar ini baru terisi 2 kamar, itu pun semuanya wisatawan dari luar negeri. Dieng Plateau Homestay ini letaknya bersebelahan persis dengan Penginapan Bu Jono yang katanya--dan kayaknya memang iya--terkenal. Tapi ya itu tarif di Bu Jono memang lebih mahal. 
Penampakan dalam kamar


Penampakan dalam kamar
Selesai memilih kamar, yang keputusan jatuh pada kamar dengan kasur dobel, langsung check-in yang sekaligus melunasi biaya menginap untuk satu hari satu malam sambil ngobrol-ngrobrol sama mas-mas penjaga homestay-nya tentang rute wisata di Dieng. Agak disayangkan waktu itu hujan, jadi kami menunggu hujan agak mereda sambil persiapan untuk jalan-jalan di kompleks Candi Arjuna.

Gambar Peta Dataran Tinggi Dieng yang dipajang di homestay
Akhirnya sekitar jam 11 siang, meskipun cuaca masih mendung dan hujan gerimis, dengan bermodal payung kami keluar hotel, tujuan pertama adalah Kompleks Candi Arjuna. Dari homestay jalan kaki ke arah utara, kira-kira 5-8 menit sampai di pertigaan yang ada Indomaret di pinggir jalannya. Jelas saja, orang Jakarta ketemu Indomaret di daerah itu ibarat musafir nemu mata air, because you can find buy everything you need in there. Buktinya selain beli minuman dan makanan salah satu dari kami sampe ada yang beli sisir rambut. Haha.. beli sisir aja sampe jauh-jauh sampe Dieng. (-_-")
Sayang banget cuacanya lagi galau
Selanjutnya untuk menuju Komplek Candi Arjuna dari Indomaret yang tadi bisa jalan kaki. Enggak jauh-jauh amat kok, paling cuma 10-15 menit. Sambil menikmati pemandangan Dieng, capeknya jadi gak kerasa, sekitar jam 11.40 kami sudah sampai di pintu masuk Kompleks Candi Arjuna. Awalnya sempet ragu-ragu karena melihat lokasinya yang sepi banget, tapi setelah tanya ke petugas ternyata benar. Mungkin karena memang lagi hujan kali ya, jadi sepi pengunjung.

Untuk bisa masuk ke Kompleks Candi Arjuna ini, setiap pengunjung diharuskan membayar karcis masuk seharga Rp 10.000,-. Biaya karcis ini sudah sekaligus untuk masuk area Kawah Sikidang. Atau bisa juga sebaliknya, beli karcis di pintu masuk Kawah Sikidang bisa sekaligus untuk masuk ke Komplek Candi Arjuna. Sebetulnya ada juga sistem karcis gabungan seharga Rp 20.000,- untuk masuk semua objek wisata di area Dieng 1 (Dieng bagian selatan) yang selain komplek Candi Arjuna dan Kawah Sikidang juga termasuk Telaga Warna. Tapi entah apa pertimbangan penentuan harga ini soalnya kalau pakai sistem ini jadinya malah lebih mahal.

Di pintu masuk Kompleks Candi Arjuna juga terpajang peta kawasan wisata
Begitu melewati pintu masuk, pengunjung akan disambut dengan tawaran-tawaran dari penjaja toko-toko souvenir dan makanan khas di sana, dan tergiurlah kami untuk jajan kentang goreng. Jadinya sambil jalan keliling kompleks candi mulut tak berhenti mengunyah. Hmmm, memang Dieng ini surganya kentang. Btw baru di Dieng ini lho saya tahu wujud tanaman kentang. Bentuk daunnya agal mirip sama tomat. Sayang saya lupa mengambil gambarnya.

Mulai memasuki komplek Candi Arjuna, situs pertama yang terlihat adalah Dharmasala. Situs yang berupa pendopo yang panjang ke samping. Di bagian belakangnya terdapat bebatuan candi yang tersebar dengan ukuran sedang-kecil.

Dharmasala

Dari situs Dharmasala kami mengukiti jalan setapak menuju situs Candi Arjuna. Hujan gerimis tidak menjadi hambatan untuk bisa menikmati keelokan situs peninggalan nenek moyang ini. Malahan kabut tipis yang menyelimuti dari kejauhan justru menambah kesan nostagia. Saat itu ada beberapa kelompok pengunjung lain, yang membuat kami harus bergantian untuk bisa berfoto dengan latar belakang candi tanpa harus kebocoran ada penampakan pengunjung lain di backgound-nya. Ini masih mending karena pengunjung waktu itu bisa dibilang sepi.

Prasasti Peresmian

Kompleks Candi Arjuna

Candi Arjuna

Candi Srikandi

Candi Puntadewa
Candi Sembadra


Candi Sembadra dan Stupanya

Setelah puas menikmati situs candi Arjuna, kami melanjutkan perjalanan dengan mengikuti jalan setapak. Di persimbapangan jalan setapak ada papan petunjuk jalan yang menunjukkan bahwa belok ke kiri akan menuju Telaga Balaikambang. Bermaksud untuk tidak melewatkan satu pun objek wisata di Dieng, kami tergoda untuk ke sana. Tapi setelah berjalan menyususri jalan setapak sampai habis pavingnya kami tidak kunjung menemukan yang namanya Telaga Balaikambang itu. Akhirnya kami berbelok mengikuti paving yang menuju jalan keluar kompleks Candi Arjuna.

Di pintu keluar kompleks Candi Arjuna, kami disambut dengan adanya satu situs candi, namanya Candi Gatotkaca. Di sekitar sini ada juga Museum Kailasa, yang di dalamnya menyimpan berbagai koleksi peninggalan sejarah yang dulu ada di Dieng ini. Selain itu, kalau pengunjung berkenan, petugas bisa memutarkan film dokumenter tentang sejarah dan legenda tentang Dataran Tinggi Dieng.

Candi Gatotkaca
Waktu itu kami sampai di Meseum Kailasa sekitar jam 1-an siang. Kebetulan sekali di dekat kantor Museum Kailasa ini ada toilet dan mushalla jadi kami langsug sholat saja dulu, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke objek wisata lainnya di Dieng.

Museum Kailasa
Setelah selesai sholat, kami ditawari untuk masuk ke museum oleh bapak petugas yang berjaga. Dengan membayar karcis masuk sebesar Rp 5.000,- kami masuk ke museum yang baru tahun 2008 yang lalu diresmikan oleh Pak Jero Wacik yang waktu itu masih menjabat sebagai menteri kebudayaan dan pariwisata. Selain melihat-lihat koleksi museum kami di museum ini juga ada pemutaran film dokumenter tentang Dieng Plateau.

Fragmen Ratna

Fragmen Kemuncak

Fragmen Kemuncak

Lingga Yoni

Arca Penjaga Pintu

Fragmen Pintu Candi

Batu Tungku

Yang ini bukan koleksi museum, lho :p

Tulisannya Pak Jero Wacik
Pukul 13.15 kami sudah selesai berkeliling museum Kailasa. Setelah kurang-lebih 15 menit foto-foto di taman museum Kailasa yang penuh dengan bunga pancawarna, kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Sikidang. Di depan museum sudah banyak tukang ojek yang menawarkan jasa mengantarkan sampai Kawah Sikidang, tapi lagi-lagi kami memilih untuk jalan kaki. Dengan panorama indah sepanjang perjalanan di dataran tinggi Dieng, jalan kaki pun jadi gak berasa capeknya, kok.
Dalam perjalanan kami akhirnya menemukan Telaga Balaikambang yang sebelumnya sempat ingin kami lihat. Ternyata memang jalan pavingnya terputus.
Telaga Balaikambang


Kompleks Candi Arjuna dilihat dari Taman Museum Kailasa
Setelah kurang lebih 30 menit berjalan sampailah kami di Kawah Sikidang dengan kondisi lapar setengah mati, hehehe.. Sengaja kami tidak makan siang di warung depan museum Kailasa dengan maksud mau makan mie ongklok di Kawah Sikidang, eh ternyata malah yang jual mie ongklok sudah pulang. Ya sudah akhirnya makan Indomie, deh. 
Di area parki kawah Sikidang ini, selain ada warung makan dan souvenir juga ada banyak los penjual sayuran. Jujur sebenarnya saya ngiler pengen belanja sayuran mentah di sini. Sayurannya masih segar-bugar dan yang pasti lebih murah daripada belanja di carrefour. Meski begitu saya urungkan niat itu, karena pasti nanti repot bawanya ke Jakarta.
Kami tidak berlama-lama di Kawah Sikidang ini, karena teman-teman saya sudah ketakutan melihat gumpalan-gumpalan gas yang keluar dari kawah Sikidang. Padahal saya malah terkagum-kagum bisa melihat secara dekat wujud dari kawah Sikidang ini. Sebuah kolam sangat besar yang berisikan lahar panas yang lebih terlihat seperti air yang mendidih dengan gumpalan gas yang keluar dari dalamnya.
Area parkiran di Kawah Sikidang


Caution!


Kawah Sikidang
Dari Kawah Sikidang kami melanjutkan jalan kaki menuju Telaga Warna. Sebenarnya di dalam perjalanan meuju Telaga Warna ada objek wisata candi Bima, tapi karena sedang dalam perbaikan jadinya kami tidak bisa masuk area ke Candi Bima. Kurang lebih 20 menit jalan kaki, kami sampai di objek wisata Telaga Warna. Untuk masuk kesini kami harus membayar karcis seharga Rp 6.000,- perorang. 
Hanya 20 meter dari pintu masuk, kami langsung dibuat terpana dengan keindahan Telaga Warna. Salah satu teman saya seketika nyeletuk, "Kayak Ranu Kumbolo ya". Saya sih setuju saja disebut begitu, karena memang secara anatomi sama-sama berbentuk "danau". Meski dengan level perjuangan yang jelas berbeda dari Ranu Kumbolo, Telaga Warna ini mempunyai eksotismenya tersendiri.
Pintu masuk Telaga Warna


Telaga Warna yang mood-nya lagi pengen ijo


(Bukan) bidadari-bidadari yang lagi mandi di Telaga.


Gak sembarang orang berani sampe di ujung batang pohon ini, lho. Hehehe..
Selesai sesi pemotretan di Telaga Warna dengan properti satu batang pohon tumbang, kami melanjutkan perjalanan ke area lain di Telaga Warna ini. Mengikuti jalan setapak yang sudah ada, pengujung akan menemukan beberapa situs sejarah yaitu Goa Semar, Goa Pengantin, dan Prasasti Batu Tulis dengan Arca Patih Gajahmada. Selain itu pada ketinggian tertentu pengujung bisa melihat Telaga Pengilon. Sayangnya saya tidak mengambil gambar Telaga Pengilon ini, karena saya pikir yang saya lihat itu hanya rawa biasa. Setelah diberi tahu oleh pengunjung lain baru saya tahu kalau yang saya anggap rawa itu adalah Telaga Pengilon.
I wish I was in this picture. Nasib tukang poto :(


Batu Tulis


Goa Semar


Goa Pengantin
Masih di area Telaga Warna, mengikuti tangga yang lumayan menanjak, pengunjung akan dibawa ke Dieng Plateau Theater (DPT). Letaknya yang tinggi memungkinkan pengunjung untuk melihat panorama dataran tinggi Dieng, kecuali kalau lagi mendung dan berkabut seperti yang kami alami. Di sini ada satu bangunan besar yang di dalamnya adalah ruangan bioskop untuk pemutaran film dokumenter. Namun saat kami datang DPT sudah ditutup. Lagian kami datangnya kesorean juga, sih. 
Dieng Plateau Theater (tampak dari belakang)


Depan Dieng Plateau Theater
Hanya sebentar kami berfoto-foto di DPT lalu lanjut ke Homestay. Kurang lebih satu jam perjalanan yang kami tempuh dari Telaga Warna sampai Homestay. Untunglah di sekitar pertigaan Bu Jono banyak warung makan. Dengan lapar yang menghadang langsung saja kami membabi buta mencari makanan yang bisa langsung disantap.
Sebelum tidur tidak lupa saya janjian dengan penjaga Homestay untuk melihat sunrise di Bukit Sikunir agar disiapkan motor untuk kami. Sekalian juga minta diantar ke Desa Sembungan.


Hari-2: Sunrise Bukit Sikunir

Jam 3 pagi, kami sudah bangun tidur. Selain karena memang hawa dingin yang bikin tidur saya jadi tidak nyenyak juga karena motivasi yang kuat untuk tidak melewatkan moment sunrise Bukit Sikunir yang kata orang salah satu yang terbaik di negeri ini. 
Perjalanan kami menuju desa Sembungan sempet terhambat gara-gara motor yang saya tumpangi ngadat di jalan. Masih ditambah lagi mas-mas yang mengantar kami tiba-tiba hilang. Bahkan sampai turun dari Bukit Sikunir kami si mas-mas tidak juga muncul. Baru dalam perjalanan pulangnya kami ketemu dengan si mas-mas dengan cerita kalau ban motornya pecah. Saya yang tadinya sudah kesel banget gara-gara motor yang gak beres akhirnya malah jadi kasian dan gak jadi protes. 
Untuk menuju puncak Bukit Sikunir, dari desa Sembungan tepatnya area parkiran Sikunir, pengunjung mau tidak mau harus menggunakan kaki masing-masing untuk berjalan mendaki ke puncak. Sebenarnya jalur menuju puncak Sikunir sangat mudah dan sangat jelas, tapi karena diantara kami sama sekali belum pernah ke Sikunir dengan senang hati kami menerima tawaran seorang guide yang mengajak kami untuk nanjak bareng tanpa dipungut biaya pula. Alasannya karena guide tersebut memang sedang mengantar tamu, tapi tamunya malah sudah naik duluan dengan guide lainnya alias mas guide ini ditinggal sama temennya. Hhehehe..
Barangkali ada hanya 30 menit perjalanan summit attack Sikunir yang kami lalui. Dalam perjalanan kami menemui sekelompok pengunjung yang salah satu anggotanya sudah sangat kecapekan dan kehabisan napas padahal baru setengah perjalanan. Walaupun Bukit Sikunir ini tidak tinggi, memang ada baiknya sebelum memulai pendakian para pengunjung melakukan latihan fisik dulu biar sedikit atau setidaknya melakukan pemanasan dulu sebelum start pendakian. Kan sayang kalau sudah bangun pagi-pagi banget, atau bahkan datang dari daerah yang jauh, tapi summit attack terhambat hanya karena kram atau kecapekan. Belum lagi masih harus merepotkan teman seperjalanan.
Here it goes, sunrise at Sikunir...


Dengan latar belakang Gunung Merbabu dan Gunung Merapi








Pemandangan di sebelah selatan bukit






Mungkin karena keterbatasan kemampuan kamera saya dalam menangkap gambar, tapi percayalah, tidak ada yang mampu menandingi Tuhan dalam menciptakan lensa yang terbaik, yaitu mata manusia. Biarpun apa yang terpotret dalam foto-foto di sini tidak mampu memukau siapa yang melihatnya tapi mata saya jelas sudah terpukau dengan keindahannya yang secara nyata. Intinya, kalau gak percaya dengan cerita saya tentang mahsyurnya sunrise Sikunir silahkan buktikan dan datang sendiri.
Bukan karena sudah mati rasa saya dengan dinginnya temperatur di puncak Sikunir sampai malas rasanya memakai windbreaker tapi karena sinar matahari sudah mulai menghangatkan permukaan bumi tempat saya berpijak. Itu jadi pertanda untuk kami segera turun dan kembali ke homestay. Mengikuti saran dari mas guide yang kami barengi tadi, untuk perjalanan turun kami memilih jalur sebelah barat. Benar saja, di jalur yang ini kami bisa melihat Telaga Cemplong yang letaknya ternyata tepat di bawah bukit. Dari sini juga terlihat area parkiran dimana pengunjung bukit Sikunir menitipkan kendaraan mereka sebelum mendaki bukit Sikunir.
Telaga Cemplong di sisi barat bukit
Pukul 6.30 akhirnya kami benar-benar meninggalkan Bukit Sikunir. Sesampainya di homestay, rasa lapar yang sedari di puncak Sikunir sudah ditahan pun akhirnya menuntut untuk dimusnahkan. Dengan meminjam motor lagi, kami telusuri jalanan di Dieng untuk mencari sarapan. Akhirnya setelah berkendara sampai ke perbatasan Wonosobo-Banjarnegara, kami menemukan satu-satunya tempat makan yang sudah buka pada jam sepagi itu. Karena di dekat warung makan ada toko oleh-oleh sekalian juga kami beli carica dan keripik kentang di situ.
Jam 10 pagi kami sudah siap untuk pulang. Packing barang-barang, check out dari homestay langsung nongkrong di pertigaan Bu Jono, nunggu bis. Sama seperti waktu kami datang, kami naik bis sampai area perbaikan jalan Kejajar-Dieng lalu jalan dikit untuk selanjutnya ganti bis yang menuju Wonosobo. Bilang saja sama kernetnya kalau mau ke terminal Terboyo, nanti akan diturunkan di suatu pertigaan yang saya lupa namanya, entah prajuritan atau kesatrian, ah, saya lupa. Dari pertigaan ini biasanya sudah ada bis jurusan Purworejo yang lagi ngetem, langsung saja naik bis ini dan minta diturunkan di Terminal Terboyo, bilang juga pintu terminal yang menuju ke Jakarta.
Pukul 11.30 kami sudah sampai di Terminal Terboyo. Langsung pesan tiket untuk kembali ke Jakarta.
Karena jam keberangkatan bis Sinar Jaya masih sangat lama, akhirnya kami berniat ke pusat kota Wonosobo. Setelah menitipkan tas-tas kami di mbak petugas penjualan tiket Sinar Jaya, kami naik angkutan yang melewati daerah Tosari. Karena berdasarkan informasi dari ibu penjual jajanan di terminal, di Tosari ini ada warung makan mie Ongklok yang (sepertinya) terkenal.
Mie Ongklok
Ini tempat kami makan mie Ongklok
Tidak menyesal kami makan Mie Ongklok Tosari ini. Sempat merasa aneh dengan penyajiannya menggunakan sate ayam dan sambal kacang, tapi ternyata rasanya enak. Mie ongklok ini terdiri dari mie telur  (kayaknya, saya gak terlalu yakin, tapi yang jelas mienya berwarna kuning, kayak mie telur) direbus dalam kuah berbumbu, tapi disajikan tanpa kuah, lalu diberi ajuran kanji (kanji yang disudah diperlakukan sedemikian rupa hingga penampakannya jadi seperti lendir, tapi tenang saja enak dimakan kok, jadi jangan jijik dulu). Setelah itu penyajiannya masih ditambah bawang goreng, irisan kucai dan irisan kasar daun kol yang agak tua, yang warnanya sudah hijau atau agak kehijauan. Mie Ongklok ini makin enak dimakan bareng sate ayam, hmmm.. enak banget, satu porsi gak akan cukup.
Melanjutkan perjalanan, sambil membunuh waktu sampai saatnya mendekati jam berangkat bis, kami manfaatkanlah kaki kami untuk jalan-jalan keliling kota Wonosobo. Tapi berlebihan kalau saya bilang sampai mengelilingi satu kota. Kami berjalan menuju Taman Aqua. Suasana di sekitar taman aqua ketika siang hari nampak sangat berbeda dibandingkan dengan pagi hari seperti saat kami pertama kali datang di Wonosobo. Di sebelah timur taman aqua, berjejeran toko-toko yang menjual berbagai hal. Salah satu yang menarik perhatian kami adalah toko roti Aneka Boga. Meski namanya toko roti, di sini juga menjual gorengan dan aneka oleh-oleh khas Wonosobo. Saya sedikit menyesal waktu tahu kalau ternyata harga carica di sini justru lebih murah dibandingkan harga yang ditawarkan toko oleh-oleh di Dieng. Ah, tapi ya sudahlah, sudah terlanjur. Keluar dari Aneka Boga kami sudah menenteng tas plastik berisikan donat dan berbagai macam kue dengan maksudnya mau dimakan nanti dalam perjalanan di bis kembali ke Jakarta.
Toko Roti Aneka Boga
Penampakan dalam Toko Roti Aneka Roti
Untuk kembali menuju Terminal Terboyo, dari pusat kota Wonosobo, kami harus berjalan menuju pertigaan yang sama seperti saat ganti bis dari Dieng (yang saya lupa nama pertigaannya itu tadi, lho). Mungkin karena sudah capek jalan kaki, jadi berasa lama, padahal dari taman aqua ke pertigaan ini paling cuma 8-10 menit.
Hampir jam 3 sore kami sudah kembali lagi di Terminal Terboyo. Cari masjid, sholat dan istirahat sebentar, bisa istirahat lama juga, sih, soalnya memang masih banyak waktu sampai bis benar-benar berangkat. Jam 16.30 bis Sinar Jaya jurusan Wonosobo-Jakarta yang kami tumpangi akhirnya berangkat.

Catatan pengeluaran selama perjalanan

Hari-3: Kembali ke Jakarta.


Alhamdulillah, sekali lagi saya masih diberi kesempatan oleh Allah SWT, Sang Penguasa Semesta Alam, untuk bisa melakukan tadabur alam, menyaksikan sendiri serta menghayati alam yang sarat dengan tanda-tanda kebesaran, kekuasaan dan keagungan-Nya.
Terimakasih!
1. Bapak Tuwuh Raharjo dan Ibu Suharni, atas sponsor doa yang tak pernah putus untuk saya, yang bahkan katanya mau nyusul waktu saya masih di Wonosobo, hahaha..
2. Teman-teman seperjalanan saya kali ini: Mima, Ningrum dan Hyda, semoga perjalanan ini menjadi cerita tersendiri untuk anak-cucu nanti.
Sampai bertemu di perjalanan berikutnya.

By tinooon.blogspot.com

 

© 2013 Trip Story | Catatan Perjalanan | Cerita Traveling. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top